"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." Kita semua tahu bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil. Tapi, bagaimana dengan ekonomi kita? Apakah kita benar-benar sedang menuju perubahan?
Ini bukan sekadar soal angka pertumbuhan atau inflasi. Ekonomi Indonesia adalah tentang bagaimana gaya hidup kita terhubung dengan budaya populer. Kita sering melihat di media sosial, anak-anak muda yang asik dengan tren investasi atau usaha digital. Tapi, apakah ini cukup untuk mengubah ekonomi kita?
Data menunjukkan bahwa 70% dari ekonomi kita didorong oleh konsumsi rumah tangga. Artinya, gaya hidup dan kebiasaan belanja kita punya pengaruh besar. Di tengah gempuran tren kopi kekinian dan gaya hidup serba praktis, apakah kita menyadari dampaknya?
Jujur aja, kita semua suka dengan kemudahan. Siapa yang nggak tergiur dengan promo belanja online atau diskon restoran hits? Tapi, kita perlu lebih kritis. Ekonomi yang sehat bukan cuma soal konsumsi, tapi juga produksi dan inovasi.
Negara punya tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Bukan cuma mendorong konsumsi, tapi juga investasi di sektor yang produktif. Startup, teknologi hijau, hingga pendidikan vokasi, semua ini adalah kunci untuk masa depan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Namun, tetap ada red flag. Ketergantungan pada pola konsumsi bisa jadi bumerang. Apalagi kalau kita nggak siap menghadapi tantangan global seperti krisis energi atau perubahan iklim. Gimana kalau tren yang kita ikuti justru membawa kita ke arah yang salah?
Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari Gen Z? Mungkin saatnya kita lebih kritis dalam memilih tren yang kita ikuti. Tren investasi yang bijak, usaha mandiri yang inovatif, dan gerakan hemat energi perlu jadi bagian dari gaya hidup kita.
Jadi, masih mau diam aja?








