"Kita semua tahu, kemiskinan bukan takdir, tapi tantangan." Ini bukan sekadar soal angka dan grafik ekonomi, tapi bagaimana kita dihadapkan pada kenyataan sehari-hari. Jujur aja, banyak dari kita yang merasa ekonomi ini kayak rollercoaster—kadang di atas, seringnya di bawah.
Di tengah hiruk-pikuk tren kekinian, mulai dari kopi kekinian sampai tren thrifting, kita sering lupa bahwa ada yang lebih besar yang harus kita urus: ketimpangan ekonomi. Gaya hidup modern ini, dengan segala "aesthetic" dan vibes-nya, seakan menutup mata kita dari realita. Ada banyak orang yang masih struggle untuk sekadar survive, sementara yang lain sibuk mengejar hype.
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa 40% pendapatan masyarakat urban habis hanya untuk memenuhi gaya hidup. Ironisnya, ini tidak serta-merta meningkatkan kualitas hidup kita. Malah, banyak yang merasa hidup dalam tekanan sosial untuk "keep up" dengan standar yang ada.
Tapi, tunggu dulu. Apakah kita akan terus seperti ini? Negara punya tanggung jawab moral untuk tidak hanya memfokuskan diri pada pertumbuhan ekonomi semata, tapi juga pada pemerataan kesejahteraan. Kebijakan yang hanya berpihak pada segelintir elit adalah red flag yang harus segera kita singkirkan.
Generasi kita, Gen Z, yang konon paling kritis dan vokal, harus lebih dari sekadar berani bersuara di media sosial. Kita harus berani menuntut perubahan nyata. Kebijakan ekonomi yang lebih merata dan inklusif adalah harga mati.
Tren gaya hidup boleh terus berubah, tapi moral kompas kita harus tetap pada kepedulian sosial dan keadilan. Jangan biarkan diri kita larut dalam budaya populer yang kosong makna, sebaliknya, jadikan itu alat untuk perubahan.
Mungkin ini saatnya kita bertanya, dalam keadaan ekonomi seperti ini, apa yang sebenarnya kita kejar dalam hidup?
Jadi, masih mau diam aja?








