"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." Kita semua tahu, kondisi ekonomi Indonesia bukan sekadar angka-angka di atas kertas, tapi ini tentang kehidupan sehari-hari kita, gengs.
Jujur aja, vibes ekonomi kita itu lagi kayak rollercoaster. Di satu sisi, kita lihat tren gaya hidup semakin hedon, dari coffee shop yang ramai sampai gadget terbaru yang selalu pingin dibeli. Di sisi lain, banyak yang masih struggle cari kerja yang layak. Ini bukan sekadar soal inflasi atau nilai tukar, tapi bagaimana kita sebagai masyarakat modern menyesuaikan diri.
Menurut data BPS terbaru, tingkat pengangguran di kalangan anak muda masih tinggi. Ironis, di era digital ini, di mana peluang bertebaran di dunia maya, masih banyak yang terjebak dalam pola pikir lama. Sebagai Gen Z, kita mesti melek finansial dan memanfaatkan teknologi buat ningkatin taraf hidup kita.
Fenomena budaya populer juga ikut mempengaruhi perilaku ekonomi kita. Platform media sosial seperti Instagram dan TikTok sering jadi patokan gaya hidup. Kita sering banget lihat tren konsumtif yang kadang ngga masuk akal, demi ngejar FOMO. Ini bikin budget kita jadi toksik banget, padahal kan kita juga harus mikirin tabungan buat masa depan.
Negara punya tanggung jawab besar, bukan cuma ngasih subsidi atau bantuan sosial. Tapi juga harus bisa menciptakan iklim ekonomi yang sehat dan berkelanjutan, biar kita nggak terus-terusan jadi korban sistem yang toxic. Kita butuh kebijakan yang bisa memberdayakan masyarakat, terutama anak muda, biar bisa lebih kreatif dan produktif.
Generasi kita harus lebih kritis dan nggak segan buat nyuarain pendapat, terutama soal kebijakan ekonomi yang kadang nggak pro rakyat. Saatnya kita bangkit, jangan cuma jadi penonton di negeri sendiri.
Jadi, masih mau diam aja?








