"Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah." Ini bukan sekadar kata-kata bijak, tapi sikap yang diambil generasi baru dalam menghadapi ekonomi Indonesia. Kita semua tahu, ekonomi kita enggak lagi sekadar soal angka dan data, tapi juga gaya hidup dan tren yang berkembang pesat.
Di era digital ini, kita melihat perubahan drastis dalam cara kita berinteraksi dengan ekonomi. Generasi Z, dengan semangat kreatifnya, mengubah cara kita memandang pekerjaan dan penghasilan. Ini bukan lagi sekadar tentang kerja sembilan hingga lima, tapi soal passion, soal hustling, dan berani melawan arus.
Data menunjukkan ekonomi kreatif menyumbang lebih dari 7% terhadap PDB Indonesia. Ini bukan angin lalu. Dari fashion sampai musik, konten digital jadi bagian penting dari ekonomi kita. Gen Z literally meruntuhkan batas-batas konvensional.
Namun, jujur aja, ada red flag yang harus kita waspadai. Gaya hidup konsumtif dan budaya FOMO (fear of missing out) bisa jadi racun. Budaya ini seringkali membuat kita terjebak dalam siklus utang dan pengeluaran berlebihan.
Di sinilah tanggung jawab negara harus muncul. Edukasi finansial harus ditingkatkan, dan akses ke pekerjaan kreatif perlu diperluas. Pemerintah enggak bisa duduk manis aja sambil berharap semuanya akan beres sendiri.
Kita butuh kebijakan yang mendukung inovasi tanpa meninggalkan moral dan etika. Kita harus bertanya, apakah kita membangun ekonomi yang berkelanjutan atau sekadar mengikuti tren sesaat?
Jadi, masih mau diam aja?








