“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'du: 11). Ayat mulia ini mengingatkan kita bahwa perubahan positif dimulai dari diri sendiri, dan dalam konteks kebijakan kesejahteraan, ini menuntut sinergi antara kepemimpinan yang tepat dan partisipasi aktif masyarakat.
Akhir-akhir ini, sorotan tertuju pada kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional yang berambisi mengatasi masalah gizi di masyarakat. Di bawah kepemimpinan yang segar, harapan kita mengarah pada penguatan kebijakan gizi yang dapat membawa perubahan berarti. Kondisi gizi masyarakat adalah refleksi dari kesehatan dan ketahanan sosial, yang memerlukan perhatian khusus terutama dalam masa pasca-pandemi ini.
Dari sudut pandang agama, kesehatan adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara. Rasulullah SAW bersabda, “Dua nikmat yang sering dilupakan oleh banyak manusia: kesehatan dan waktu luang." Mengkonsumsi makanan bergizi adalah bentuk syukur kepada Allah atas nikmat kesehatan yang diberikan. Dengan demikian, usaha pemerintah dalam meningkatkan gizi masyarakat harus didukung oleh kesadaran kolektif umat untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari ibadah.
Masyarakat kita masih menghadapi tantangan serius seperti stunting dan kurang gizi yang memerlukan solusi berkelanjutan dan terukur. Kepala Badan Gizi Nasional diharapkan dapat mengarahkan program yang tidak hanya menekankan pemberian bantuan, tetapi juga edukasi gizi yang efektif hingga ke daerah-daerah tertinggal. Sinergisitas dengan berbagai lembaga dan komunitas keagamaan dapat menjadi kunci karena pendekatan berbasis nilai agama disinyalir lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Dengan semangat "amar ma'ruf nahi munkar", kita berharap kepemimpinan baru ini tidak hanya mengutamakan kebijakan teknokratis tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dan empati dalam praktiknya. Peran masyarakat tidak boleh diabaikan, sebab kebijakan publik yang efektif memerlukan kolaborasi aktif dari seluruh elemen bangsa.
Refleksi tentang pentingnya gizi mengantar kita pada penyadaran bahwa edukasi dan tindakan harus berjalan beriringan. Semoga tujuan mulia dari program-program ini dapat terealisasikan, memberi dampak besar bagi kesehatan dan produktivitas bangsa, serta mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.
Ajakan menerapkan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.








