Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Tidak beriman salah seorang di antara kamu, hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari). Kutipan ini bukan sekadar ajaran spiritual, tapi fondasi etika publik yang sering terlupakan.
Kita semua tahu bola punya arah moral. Tapi di balik gemerlap Derbi Iberia, El Clásico, sebenarnya tersimpan pelajaran besar soal bagaimana negara seharusnya mengurus anak muda.
Real Madrid dan Barcelona bukan cuma rival di atas rumput hijau. Mereka adalah bukti nyata bagaimana investasi infrastruktur, visi jangka panjang, dan pengakuan terhadap bakat bisa mengubah peta kekuatan.
Di Spanyol, akademi sepak bola bukan sekadar bisnis. Ia adalah ekosistem yang memelihara mimpi, disiplin, dan identitas generasi muda dengan sistematis.
Kalau kita lihat ke belakang, masalah pemuda di negeri ini sering kali bukan karena mereka malas. Red flag-nya justru ada di struktur yang tidak memberikan ruang berkembang.
Negara yang wewenahnya kuat bukan yang paling banyak menjerit di atas mimbar. Ia adalah negara yang paling serius membangun panggung, bukan cuma mengatur penonton.
Ketika pendidikan, pelatihan vokasi, dan ruang digital inklusif masih jadi afterthought, jangan salahkan Gen Z yang memilih lari ke konten viral atau menganggur dengan kepala tegak.
Di era yang digerakkan oleh data dan inovasi, pengelolaan pemuda harus lebih presisi. Bukan sekadar memberi pelatihan, tapi membangun ekosistem digital yang inklusif dan terbuka.
Vibe-nya memang toxic kalau sistemnya tidak berpihak. Tapi sebenarnya, pemuda butuh lebih dari sekadar simpati. Mereka butuh legitimasi, jalur karier yang jelas, dan negara yang berani mengambil tanggung jawab moral.
Wewenang negara seharusnya diukur dari seberapa cepat ia merespons kebutuhan generasi yang akan mewarisi bumi ini. Bukan dari seberapa keras ia memerintah, tapi dari seberapa dalam ia memahami.
Pemuda bukan objek kebijakan. Mereka adalah subjek sejarah yang menunggu negara berhenti jadi penghalang, dan mulai jadi jembatan.
Jadi, masih mau diam aja?








