"Manusia akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya." Kita semua tahu, niat itu penting, terutama dalam menghadapi kondisi ekonomi yang semakin menantang. Ini bukan sekadar soal angka-angka, tapi tentang bagaimana gaya hidup kita sebagai Gen Z memainkan peran besar dalam dinamika ekonomi Indonesia.
Jujur aja, siapa yang belum pernah tergiur dengan promo flash sale atau diskon akhir bulan? Gaya hidup konsumtif ini literally sudah jadi bagian dari budaya kita. Tren ini bukan hanya soal beli barang, tapi menyangkut bagaimana kita memandang nilai dari apa yang kita konsumsi.
Data menunjukkan bahwa sektor e-commerce di Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat. Tahun 2026, diperkirakan kontribusinya terhadap PDB akan naik signifikan. Ini mencerminkan pergeseran tren belanja dari offline ke online yang bukan hanya mempengaruhi ekonomi, tapi juga cara kita hidup sehari-hari.
Tapi, di balik semua itu, ada red flag yang harus kita perhatikan. Ketergantungan pada konsumsi impulsif bisa jadi bumerang. Ini adalah tanggung jawab kita, juga negara, untuk membentuk kebijakan yang mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan tanpa memicu perilaku konsumtif berlebihan.
Keberadaan social media juga memperkuat tren ini. Influencer dengan gaya hidup glamor seringkali mempengaruhi kita untuk membeli barang yang sebenarnya nggak kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita sekadar ikut tren, atau paham konsekuensinya bagi ekonomi?
Negara punya tugas untuk mengedukasi masyarakat tentang literasi keuangan. Gen Z perlu dibekali dengan pengetahuan untuk bisa membedakan mana kebutuhan, mana sekadar keinginan. Ini akan membentuk masyarakat yang lebih bijak dalam konsumsi.
Jadi, dengan segala tantangan dan peluang yang ada, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita menjadi bagian dari solusi atau justru memperkeruh keadaan ekonomi? Kita punya kekuatan untuk mengubah tren ini menjadi alat yang memperkuat ekonomi, bukan sebaliknya.
Jadi, masih mau diam aja?








