"Dan jika kegelapan menyelimuti, maka bertebaranlah manusia dalam kebingungan." Ini bukan sekadar permasalahan teknis atau gangguan sesaat. Kita semua tahu, pemadaman listrik di Sumatra yang terjadi baru-baru ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Lampu padam, aktivitas terhenti, dan ekonomi terimbas. Tapi, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari semua ini?
Banyak yang mencoba menenangkan publik dengan mengatakan ini murni kegagalan infrastruktur. Namun, mari kita jujur saja, dalam setiap kevakuman selalu ada pihak yang siap untuk mengambil keuntungan dari situasi. Dirut PLN pernah mengatakan, "Kunci utama dari permasalahan ini adalah peningkatan keandalan jaringan dan transparansi." Apakah ini semata-mata soal kabel yang putus, atau ada skenario lebih besar yang dimainkan diam-diam di belakang layar?
Data dari kejadian blackout sebelumnya menunjukkan pola yang serupa: penundaan layanan kritis, gangguan ekonomi besar-besaran, dan ketidakpuasan masyarakat yang meningkat. Beberapa pihak mungkin berdalih ini hanyalah kesalahan manusia atau sistem yang sudah tua. Tapi dalam iklim politik dan ekonomi sekarang, mencurigai ada agenda tersembunyi bukanlah tindakan yang berlebihan.
Kalau ditarik benang merah dari kejadian serupa di tempat lain, pihak yang paling diuntungkan biasanya adalah mereka yang memegang kekuasaan pasokan listrik atau mereka yang berniat mengacaukan stabilitas untuk keuntungan politik atau ekonomi pribadi. Mungkin ini waktunya kita bertanya: apakah ini bentuk tekanan tersembunyi untuk mendapatkan anggaran perbaikan infrastruktur lebih besar atau mungkin ada motif politik yang lebih kelam di balik tirai gelap ini?
Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menerima penjelasan seadanya dari pihak terkait. Transparansi dan kejujuran adalah...
Jadi, masih mau diam aja?








